Dua minggu setelah pindah, Rudi baru sadar atap kontrakan bocor di tiga titik. Pemiliknya beralasan itu "sudah dari dulu begitu" dan menolak memperbaiki. Rudi sudah membayar setahun penuh di muka. Ia terjebak: bertahan dengan ember di tiap sudut saat hujan, atau pindah dan mengikhlaskan uang sewa yang besar. Semua ini sebenarnya bisa dihindari dengan pengecekan satu jam sebelum tanda tangan.
Sewa kontrakan adalah komitmen finansial besar yang sering diputuskan terburu-buru karena takut kehabisan. Padahal sedikit ketelitian di awal menghemat banyak masalah di kemudian hari. Berikut hal-hal yang wajib dicek sebelum uang berpindah tangan.
Verifikasi Siapa Pemilik Aslinya
Penipuan kontrakan paling umum adalah calo yang mengaku pemilik. Minta fotokopi sertifikat tanah atau AJB, lalu cocokkan nama di dokumen dengan KTP orang yang bertransaksi denganmu. Kalau yang datang "saudara pemilik" atau "orang kepercayaan", minta surat kuasa tertulis. Jangan malu meminta; pemilik asli yang jujur tidak akan tersinggung.
Cek juga status bangunannya. Apakah di atas tanah sengketa? Apakah ada rencana penggusuran atau proyek di sekitar? Tanya ke tetangga dan RT setempat. Warga sekitar biasanya tahu sejarah bangunan: pernah banjir, pernah sengketa, atau pemiliknya bermasalah. Informasi dari tetangga sering lebih jujur daripada brosur.
Untuk kontrakan berupa ruko atau bangunan komersial, pastikan izin mendirikan bangunannya jelas. Bangunan tanpa izin rawan masalah hukum yang ujungnya merepotkan penyewa juga.
Cek Kondisi Fisik Menyeluruh
Datanglah dua kali: sekali di siang hari yang terang, sekali setelah hujan kalau memungkinkan. Siang hari yang terang memperlihatkan retak dinding, jamur, dan kondisi cat yang sebenarnya. Setelah hujan memperlihatkan bocor atap, rembesan dinding, dan genangan di halaman.
Buat daftar cek: keran air (alirannya deras?), listrik (coba nyalakan semua lampu dan colokan), kloset dan saluran pembuangan (siram beberapa kali), pintu dan jendela (terkunci rapat?), dan atap (naik dan lihat langsung kalau bisa). Cek tekanan air di jam sibuk pagi dan sore, karena air yang deras di siang hari bisa jadi kecil saat semua tetangga memakai.
Jangan lupa cek sinyal HP dan akses internet di dalam bangunan. Beberapa kontrakan di gang dalam punya sinyal lemah. Kalau kamu kerja dari rumah, ini masalah serius. Tes dengan menelepon dan membuka halaman web dari tiap ruangan.
Pahami Isi Perjanjian Sewa
Perjanjian sewa tertulis melindungi kedua belah pihak. Minimal harus memuat: identitas kedua pihak, alamat objek sewa, jangka waktu, nilai sewa dan cara bayar, serta hak dan kewajiban masing-masing. Kalau pemilik hanya mau kesepakatan lisan, pertimbangkan ulang.
Perhatikan klausul-klausul ini: siapa yang menanggung perbaikan kecil vs besar, apakah boleh merenovasi atau menambah bangunan, bagaimana aturan pengembalian uang bila sewa diputus di tengah jalan, dan berapa denda keterlambatan. Klausul yang timpang, misalnya penyewa menanggung semua perbaikan termasuk struktural, adalah tanda bahaya.
Tanyakan juga soal kenaikan harga. Apakah harga tahun depan dijamin sama? Kalau naik, berapa persen maksimalnya? Banyak konflik muncul di tahun kedua saat harga naik tiba-tiba tanpa kesepakatan awal. Lebih baik canggung bertanya sekarang daripada bertengkar nanti.
Kenali Lingkungan Sekitar
Kontrakan bukan cuma bangunan, tapi juga lingkungannya. Kunjungi di malam hari untuk menilai keamanan dan kebisingan. Gang yang sepi dan gelap di malam hari berisiko. Dekat tempat hiburan malam berarti bising. Tanya soal banjir ke warga; penjaga warung biasanya paling tahu titik mana yang kebanjiran tiap musim hujan.
Cek akses: seberapa jauh ke jalan raya, apakah mobil bisa masuk, bagaimana kalau ada keadaan darurat. Cek juga fasilitas: jarak ke pasar, sekolah, rumah sakit, dan tempat ibadah sesuai kebutuhanmu. Kontrakan murah yang jauh dari segalanya bisa jadi mahal karena ongkos transport harian.
Perhatikan tetangga. Lingkungan yang rukun membuat hidup tenang. Kalau saat survei kamu melihat konflik terbuka antar warga, itu pertanda. Kamu akan tinggal di sana berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.
Dokumentasikan dan Bayar dengan Aman
Sebelum serah terima, foto seluruh kondisi bangunan: tiap ruangan, meteran listrik dan air, dan setiap cacat yang ada. Foto-foto ini menjadi bukti kondisi awal kalau nanti ada perselisihan soal kerusakan. Kirim salinannya ke pemilik sebagai arsip bersama.
Bayar dengan transfer bank, bukan tunai, supaya ada bukti transaksi. Minta kwitansi bermeterai untuk setiap pembayaran. Simpan perjanjian sewa, kwitansi, dan foto kondisi dalam satu map fisik dan satu folder digital.
Rudi akhirnya bertahan setahun dengan atap bocor, lalu pindah dengan bekal pengalaman pahit. Tahun berikutnya ia menerapkan semua cek di atas dan mendapat kontrakan yang jauh lebih baik dengan harga yang sama. Satu jam ketelitian di awal menghemat satu tahun penderitaan. Kalau rencanamu membeli rumah sendiri kelak, pelajari juga syarat KPR rumah subsidi sebagai langkah berikutnya.
