Ada kelegaan aneh yang dirasakan orang setelah menulis sesuatu di atas kertas, meski tidak ada yang membacanya. Bukan puisi, bukan cerpen, cuma catatan tentang hari yang baru lewat: macet di jalan, obrolan singkat dengan teman lama, rasa kesal yang belum sempat diungkapkan. Lima belas menit kemudian, kepala terasa lebih ringan. Itulah inti dari menulis jurnal harian, hobi yang tidak butuh bakat, tidak butuh alat mahal, dan tidak butuh penonton.
Jurnal harian bukan buku harian remaja yang dikunci gembok. Ia lebih mirip tempat sampah sekaligus gudang bagi pikiran. Semua yang berputar-putar di kepala dipindahkan ke kertas, sehingga kepala tidak perlu lagi menyimpannya. Banyak orang yang awalnya skeptis akhirnya ketagihan, bukan karena tulisannya bagus, tapi karena efeknya terasa.
Mulai dari yang Paling Sederhana
Hambatan terbesar menulis jurnal adalah ekspektasi. Orang membayangkan harus menulis rapi, panjang, dan bermakna. Padahal jurnal yang baik adalah jurnal yang ditulis, bukan jurnal yang indah. Tulis saja apa adanya, bahkan kalau isinya cuma keluhan tentang cuaca.
Pilih alat yang paling tidak merepotkan. Buku tulis biasa dan pulpen yang enak dipakai sudah lebih dari cukup. Menulis tangan memang terasa lebih lambat, tapi justru itu kelebihannya: kecepatan yang lambat memaksa pikiran ikut melambat. Kalau lebih nyaman mengetik, aplikasi catatan di ponsel juga tidak masalah. Yang penting alatnya selalu dalam jangkauan saat waktu menulis tiba.
Tentukan waktu yang realistis. Pagi hari sebelum aktivitas cocok untuk menulis rencana dan harapan. Malam hari cocok untuk merenungkan apa yang terjadi. Tidak ada waktu yang paling benar, yang ada hanya waktu yang paling mungkin dilakukan secara rutin. Lima belas menit sudah cukup. Kalau hari sedang sibuk, lima menit pun tidak apa-apa. Konsistensi mengalahkan durasi.
Tidak Tahu Mau Menulis Apa
Halaman kosong memang menakutkan. Untuk mengatasinya, siapkan beberapa pertanyaan pemicu yang bisa dipakai berulang-ulang. Misalnya: apa satu hal yang berjalan baik hari ini? Apa yang paling menguras tenaga? Kalau hari ini bisa diulang, apa yang ingin diubah? Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti ini cukup untuk memancing tulisan mengalir.
Teknik lain adalah menulis tanpa berhenti. Pasang timer sepuluh menit, lalu tulis terus tanpa mengangkat pulpen. Tidak boleh berhenti untuk berpikir, tidak boleh menghapus, tidak boleh memperbaiki ejaan. Kalau kehabisan ide, tulis saja "saya tidak tahu mau menulis apa" berulang-ulang sampai ide baru muncul. Teknik ini terdengar konyol, tapi efektif membuka sumbatan.
Ada juga yang suka membuat jurnal dengan format tetap. Contohnya tiga baris syukur setiap malam: tiga hal yang disyukuri hari itu, sekecil apa pun. Atau jurnal satu kalimat: setiap hari hanya menulis satu kalimat yang merangkum hari itu. Format-format kecil seperti ini bagus untuk pemula karena tidak menuntut banyak.
Jurnal Bukan Sekadar Curhat
Setelah beberapa minggu menulis rutin, jurnal mulai menunjukkan kegunaannya yang lain. Membaca ulang catatan lama sering memberi kejutan: masalah yang dulu terasa besar ternyata sudah berlalu, pola kebiasaan yang tidak disadari mulai terlihat. Orang yang rajin mencatat sering menyadari bahwa ia selalu lelah di hari tertentu, atau selalu bersemangat setelah melakukan hal tertentu. Jurnal menjadi cermin yang jujur.
Bagi yang suka merencanakan, jurnal bisa digabung dengan catatan target. Tulis target kecil di awal minggu, lalu evaluasi di akhir minggu. Bukan untuk menghakimi diri sendiri, tapi untuk melihat apa yang realistis dan apa yang tidak. Banyak rencana gagal bukan karena orangnya malas, tapi karena rencananya memang tidak masuk akal sejak awal. Jurnal membantu melihat itu.
Jurnal juga bisa menjadi tempat menyimpan ide. Ide bisnis, ide liburan, ide hadiah untuk orang tersayang, semua bisa ditampung. Ide yang ditulis tidak hilang. Dan ide yang tidak hilang suatu hari bisa dieksekusi.
Privasi dan Kejujuran
Satu aturan yang membuat jurnal bekerja: jujur. Jurnal yang ditulis dengan niat akan dibaca orang lain tidak akan pernah jujur sepenuhnya. Simpan jurnal di tempat yang aman, dan kalau perlu beri tahu orang rumah bahwa buku itu bersifat pribadi. Kejujuran inilah yang membuat jurnal terasa melegakan. Tidak ada penilaian, tidak ada ekspektasi, hanya diri sendiri yang bicara dengan diri sendiri.
Tidak perlu khawatir soal tata bahasa atau tulisan yang jelek. Tidak ada editor, tidak ada pembaca, tidak ada nilai. Justru kebebasan inilah yang membuat banyak orang akhirnya berani menulis hal-hal yang tidak pernah mereka ucapkan.
Menulis jurnal adalah salah satu hobi termurah yang ada. Tidak seperti hobi lain yang butuh peralatan khusus, jurnal hanya butuh kemauan untuk duduk sebentar dan jujur pada diri sendiri. Sama seperti berkebun di lahan sempit yang memberi ketenangan lewat merawat tanaman, menulis jurnal memberi ketenangan lewat merawat pikiran. Dan kalau suatu hari butuh hiburan di luar rumah, piknik hemat bareng keluarga bisa jadi pelengkap yang pas. Keduanya sama-sama sederhana, murah, dan menyehatkan dengan caranya masing-masing.